BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang
ajarannya-ajarannya memadukan antara visi dan mistis dan visi rasional
pengasasnya. Berbeda dengan tasauwufakhlaqi, tasauf falsafi menggunakan
terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafitersebut
berasal dari bermcam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para
tokohnya.[1][1]
Tasawuf
ada beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan
tasawuf Falsafi. Adapula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali,
tasawuf Falsafi dan tasawuf 'Ilmi. Akan tetapi dalam makalah
kecil ini hanya akan dibahas secara lebih fokus tentang tasawuf Falsafi saja.
Dalam makalah ini penulis mencoba menjelaskan
berbagai ajaran tasawuf utamanya yang di ajarkan oleh Ibnu Arabi. Ibnu Arabi
merupakan salah satu tokoh tasawuf falsafi yang sangat terkenal dengan ajaran
utamanya yakni wahdatul wujud yang menjelaskan kesatuan wujud yakni Tuhan dan
manusia adalah satu wujud.
B. RUMUSAN
MASALAH
a. Apakah yang dimaksud tasawuf
falsafi?
b. Apa ajaran-ajaran yang dibawa
Ibnu Arabi?
c. Apakah
yang dimaksud wahdatul wujud?
C. TUJUAN
a. Untuk memahami tasawuf falsafi
b. Mengetahui ajaran-ajaran Ibnu
Arabi
c. Memahami ajaran wahdatul wujud
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Tasawuf Falsafi
Tasawuf
Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat)
dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tingkat yang lebih tinggi,
bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi
dari itu yaitu wahdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf
filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Di dalam
tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau
tasawuf salafi. Kalau
tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (يلمعا ),
sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (رطنا )
sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio
dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam
kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan
mustahil.
Menurut
at-taftazani, tasawuf falsafi mulai muncul dengan jelas dalam khazanah islam
sejak abad keenam hijriyah, meskipun para tokohnya baru dikenal seabad
kemudian. Sejak itu, tasawuf jenis ini tersu hidup dan berkembang, terutamadi
kalangan para sufi yang juga filosof, sampai menjelang akhir-akhir ini.[2][2]Adanya
pemaduan antar tasawuf dan filsafat dalam ajaran tasawuf ini dengan senidirnya
telah membuat ajaran-ajaran tasawuf jenis ini bercampur dengan sejumlah ajaran
filsafat di luar islam, seperti yunani, persia, india, dan agama nashari. Akan
tetapi, orisianiltasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Sebab, meskipun mempunyai latar
belakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda dan beragam, seiring dengan
ekspansi islam, yang telah meluas pada waktu itu, para tokohnya tetap berusaham
menjaga kemandirian ajaran aliran mereka, teruutama bila dikaitkan dengan kedudukannya sebagai umat islam. Sikap ini dengan
sendirinya dapat menjelaskan kepada kita mengapa para tokoh tasawuf jenis ini
begitu gigih mempromklamirkan ajaran-ajaran filsafat yang berasal dari luar
islam tersebut ke dalam tasawuf mereka, serta menggunakan
terminologi-terminologi filsafat, tetapi maknanya telah disesuaikan dengan ajaran tasawuf yang mereka anut.
Masih
menurut at-taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar
akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh siapa saja yang
memahami ajaran tasawuf jenis ini.[3][3] Tasawuf
falsafi tidak dapat di pandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya
didasarkan pada rasa (dzauq) tetapi tidak dapat
pula di kategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena
ajrannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada
panteisme.[4][4]
Para sufi
yang juga filosof pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat
yunani serta berbagai aliran seperti socrates, plato, aristoteles, aliran stoa,
dan aliran neo-platonisme, dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan, mereka
pun cukup akbar dengan filsafat yang sering kali disebut hermenetisme yang
karya-karyanya banyak di terjemahkan ke dalam bahasa arab dan filsafat-filsafat
timur kuno, baik dari persia maupun india, serta filsafat-filsafat islam,
seperti yang diajarkan oleh al-farabi dan ibnu sina. Mereka pun dipengaruhi aliran batiniah
sekte isma'iliyyah aliran syi’ah dan risalah-risalah ikhwan ash-shafa’.[5][5]
Tasauf
falsafi memiliki objek tersendiri yang berbeda dengan tasawuf sunni. Dalam hal
ini, ibnu khaldun, sebagaimana yang dikutip oleh at-taftazani,[6][6] dalam
karyanya al-muqaddimah menyimpulkan bahwa ada emapat objek utama yang menjadi
perhatian para sufi filosof, antara lain sebagi berikut.
Pertama, latihan
rohaniah dengan rasa, intuisi serta intropeksi diri yang timbul darinya.
Mengenai latihan rohaniah dengan tahapan (maqam) maupun keadaan (hal) rohaniah
serta rasa (dzauq) para sufi filosof cenderung sependapat dengan para sufi
sunni, sebab, masalah tersebut, menurut ibnu khaldun, merupakan sesuatu yang
tidak dapat di tolak oleh siapapun.
Kedua, iluminasi
atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat rabbani,
‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas segala yang
wujud, yang gaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang
penciptanya. Serta pencipatannya. Mengenai ilminasi ini, para sufi yang juga
filosof tersebut melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat
serta menggairahkan roh dengna jalan menggiatkan dzikir. Dengan dzikir, menurut
mereka, jiwa dapat memahami hakikat realitas-realitas.
Ketiga, peristiwa-peristiwa
dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan
atau keluarbiasaan.
Keempat, penciptaan
ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syathayyat) yang
dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya,
menyetujui, ataupun menginterprestasikannya dengan interprestasi yang
berbeda-beda.
Perlu di
catat, dalam beberapa segi, para sufi-filosof ini melebihi para sufi sunni. Hal
ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, mereka adalah para teoritisi yang
baik tentang wujud, sebagaimana terlihat dalam karya-karya atau pusis-pusisi
mereka. Untuk yang satu ini, mereka tidak menggunakan ungkapan-ungkapan
syathadiyat. Kedua kelihaian mereka menggunakan simbo-simbol sehingga
ajarannya tidak begitu saja dapat di pahami orang lain di luar mereka. Ketiga,
kesiapan mereka yang sungguh-sungguh terhadap diri sendiri ataupun ilmunuya.[7][7]
Di antar
tokoh-tokoh tasawuf falsafi adalah ibnu arabi, al-jili, ibnu sab’in, dan ibnu
masarrah.
B. Ibnu
Arabi (560 H-638 H) dan Ajarannya
a. Biografi Singkat Ibnu Arabi
Nama
lengkap ibnu Arabi adalah muhammad
bin ‘ali bin ahmad bin ‘abdullah ath-tha’i al-haitami. Ia lahir di mercia,
andalusia tenggara, spanyol, 17 Ramadhan tahun 560 H atau 28 Juli tahun 1165 M,
dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuan. Tahun 620 H, ia tinggal di Hijaz
dan meninggal di sana pada tahun 638 H. Namaya biasa di sebut tanpa Al untuk
membedakan dengan abu bakar tanpa “al” untuk membedakan dengan abu bakar ibnu al-‘arabi seorang qadhi dari sevilla yang
wafat tahun 543 H. Di sevilla (spanyol), ia mempelajari
al-Qur’an, hadis serta fiqih pada sejumlah murid andalusia terkenal, yakni ibnu hazm az-zhahiri.[8][8]
b. Ajaran-ajaran tasawuf Ibnu Arabi
Ibnu Arabi adalah penganut faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan
dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum
fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan
semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibnu Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya. Namun dari berbagai ajarannya bisa
dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud[9][5]
Karya karyanya yang monumental
diantaranya Al Futuhad Al Makiyah ditulis saat menunaikan ibadah haji,
danTarjuman Asyiwaq ditulis mengenang kecantikan, ketaqwaan dan kepintaran
seorang gadis cantik dari keluarga sufi dari Persia..
Secara
kronologis, berikut ini adalah daftar karya-karya Ibnu Arabi.
- Mashahid al-Asrar al-Qudsiyya (Contemplations of the Holy Mysteries) (Written in Andalusia, 590/1194).
- Al-Tadbirat al-Ilahiyya (Divine Governance of the Human Kingdom). Written in Andalusia.
- Kitab Al-Isrâ’ (The Book of Night Journey). Written in Fez, 594/1198.
- Mawaqi al-Nujûm (Settings of the Stars). Writen in Almeria, 595/1199.
- ‘Anqa` Mughrib (The Fabulous Gryphon of the West), Written in Andalusia, 595/1199.
- Insha’ al-Dawa’ir (The Description of the Encompassing Circles). Written in Tunis, 598/1201.
- Mishkat al-Anwâr (The Niche of Lights). Written in Mecca, 599/1202/03.
- Hilyat al-Abdal (the Adornment of the Substitutes). Written in Taif, 599/1203.
- Rûh al-Quds (The Epistle of the Spirit of Holiness). Written in Mecca, 600/1203.
- Taj al-Rasâil (The Crown of Epistles). Written in Mecca, 600/1203.
- Kitab al-Alif, Kitab al-Ba’, Kitab al-Ya. Written in Yerusalem, 601/1204.
- Tanazzulat al-Mawsiliyyai (Descents of Revelation). Written in Mosul, 601/1205.
- Kitab al-Jalal wa al-Jamâl (The Book of Majesty and Beauty). Written in Mosul, 601/1205.
- Kitab Kunh ma la budda lil murid minhu (What is essential for the Seeker). Mosul, 601/1205.
- Fusûs al-Hikam (Vessels of Wisdom). Damascus, 627/1229.
- al-Futûhât al-Makkiyya (Meccan Illuminations). Mecca, 1202-1231 (629)[10][7]
1. Pemikiran atau Inti Ajaran Tasawuf
Ibnu Arabi
a.
Wahdat
al – Wujud
Diantara ajaran terpenting Ibnu Arabi adalah tentang kesatuan wujud
(Wahdat al -Wujud) yaitu faham bahwa manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah
satu kesatuan wujud. Menurut
faham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki dua aspek, yaitu aspek luar
dan aspek dalam .Aspek luar disebut makhluk (al- Khalq) aspek dalam disebut Tuhan (al haqq). Menurut
faham ini aspek yang sebenarnya ada hanyalah aspek dalam (Tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah bayangan dari aspek dalam tersebut. [11][8]
Sebagaimana doktrin-doktrin beliau dalam kitab Futuhad
Al-Makkiyah dan Fushush Al-Hikam esensi KeTuhanan bagi ibnu Arabi adalah segala
yang ada yang bisa dipandang dari dua aspek: (1) sebagai esensi murni,tunggal
dan tanpa atribut (sifat);
dan (2) sebagai esensi yang dikaruniai atribut.Tuhan,karena dipandang tidak
beratribut,berada di luar relasi dan karenanya juga di luar pengetahuan. Dalam
esensi - Nya Tuhan terbebas dari penciptaan, tetapi dalam keTuhanan-Nya,Tuhan membutuhkannya. Eksistensi Tuhan adalah absolut,
ciptaannya ada secara relatif, dan
yang muncul sebagai relasi realitas adalah wujud nyata yang terbatasi dan
terindividualisasi. Karenanya segala sesuatu adalah atribut Tuhan dan dengan
demikian semua pada akhirnya identik dengan Tuhan, tanpa memandang bahwa semua itu
sebenarnya bukan apa-apa.
[12][9].
Ibnu Arabi
memandang manusia dan alam sebagai cermin yang memperlihatkan Tuhan dan berkata
bahwa sang penerima berasal dari nol sebab ia berasal dari emanasi-Nya yang
paling suci karena seluruh kejadian (eksistensi) berawal dan berakhir
bersama-Nya: kepada-Nya ia akan kembali
dan dari-Nya ia berawal.[13][10]
Ketika
Tuhan berkehendak dengan nama nama bagus-Nya (sifat sifat) yang berada di luar hitungan, esensinya bisa
dilihat. Dia menyebabkan nama nama itu bisa dilihat dalam sebuah wujud
mikrokosmik yang karena dikaruniai eksistensi meliputi seluruh obyek
penglihatan dan melaluinyalah kesadaran
terdalam Tuhan menjadi termanifestasikan di hadapan-Nya [14][11]
Menurut Ibnu Arabi wujud semua yang ada ini hanya satu
dan wujud makhluk pada hakikatnya adalah wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan
antara keduanya dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira bahwa antara wujud khaliq dan
makhluk ada perbedaan, hal itu dilihat dari sudut pandang panca indra lahir dan
akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada
Dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu berhimpun pada-Nya.[15][12]
Menurutnya wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah
dan Allah adalah hakikat alam.Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang
disebut Khaliq dan wujud baru yang disebut makhluk. Kalau antara Khaliq dan makhluk
bersatu dalam wujudnya mengapa terlihat dua? Ibnu Arabi menjawab sebabnya
adalah tidak memandang dari sisi yang satu tetapi memandang keduanya dengan
pandangan bahwa keduanya adalah Khaliq dari sisi yang satu dan makhluk dari
sisi yang satu [16][13]
Satu
satunya wujud adalah wujud Tuhan, tidak ada wujud selain wujudNya. Ini berarti apa pun selain
Tuhan baik berupa alam maupun apa saja yang ada di alam tidak memiliki wujud. Kesimpulannya kata wujud tidak
diberikan kepada selain Tuhan. Akan tetapi kenyataannya Ibnu Arabi juga
menggunakan kata wujud untuk menyebut sesuatu selain Tuhan.Namun ia mengatakan
bahwa wujud itu hanya kepunyaan Tuhan sedang wujud yang ada pada alam
hakikatnya adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya.Untuk memperjelas
uraiannya ibnu Arabi memberikan contoh berupa cahaya. Cahaya hanya milik matahari, tetapi cahaya itu dipinjamkan kepada
para penghuni bumi. Ibnu
Arabi mengemukakan teori tajalli yang berarti
menampakkan diri. Tajalli
artinya Allah menampakkan diri atau membuka diri,jadi diumpamakan Allah
bercermin sehingga terciptalah bayangan Tuhan dengan sendirinya. Dengan teori ini makhluk adalah
bayang bayang atau pencerminan Tuhan di mana Tuhan dapat melihat dirinya
sendiri tanpa kehilangan sesuatupun. Artinya tetap dalam kemutlakannya
Lebih lanjut Ibnu Arabi menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan alam. Menurutnya alam adalah bayangan Tuhan
atau bayangan wujud yang hakiki dan alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya. Oleh karena itu alam tempat tajali
dan mazhar (penampakan Tuhan) Menurutnya ketika
Allah menciptakan alam ini. Ia juga memberikan sifat sifat keTuhanan pada
segala sesuatu. Alam
ini seperti cermin yang buram dan seperti badan yang tidak bernyawa. Oleh karena itu Allah menciptakan
manusia untuk memperjelas cermin itu. Dengan pernyataan lain alam ini merupakan mazhar (penampakan) dari asma dan sifat Allah yang terus
menerus. Tanpa alam sifat dan asmaNya akan kehilangan makna dan senantiasa dalam bentuk dzat
yang tinggal dalam ke-mujarrad-an (kesendirian)-Nya.yang mutlak yang tidak
dikenal oleh siapapun. [17][14]
Sementara permasalahan Tasybih dan Tanzih Ibnu Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus
melihat TanzihNya (Kesucian Allah dari segala sifat yang baru) pada TasybihNya
(KeserupaanNya dengan yang baru) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk
mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering
mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “Aku mengenal Allah dengan
menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal
Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya.
Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah seperti yang dilakukan
ole kalangan Mu’tazilah yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah
menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Hal ini mengakibatkan
terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah
dalam aspek tasybih saja seperti
yang dilakukan kalangan al-mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baru. Untuk memperkuat pendapatnya beliau
merujuk pada sebuah hadis Qudsi
Artinya:
Aku pada permulaaanya adalah
perbendaharaan yang tersembunyi,kemudian Aku ingin dikenal ,maka Ku ciptakan
makhluk.lalu dengan itulah mereka mengenal aku.
b.
Haqiqah Muhammadiyah
Konsep haqiqah
Muhammadiyah ini lanjutan dari konsep Wahdat al -Wujud. Ibnu arabi menjelaskan
bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran haqiqah
Muhammadiyah atau Nur Muhammad .Menurutnya tahapan tahapan kejadian proses
penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu adalah sebagai berikut:
Pertama, Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak,
yaitu dzat yang mandiri dan tidak
berhajat kepada suatu apapun.
Kedua, wujud haqiqah Muhammadiyah sebagai
emanasi (pelimpahan ) pertama dari wujud Tuhan dan dari sini muncul segala
wujud dengan proses tahapan tahapannya. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa Nur muhammad itu qadim
dan merupakan sumber emanasi degan berbagai macam kesempurnaan ilmiah dan
amaliah yang terealisasikan pada diri para nabi semenjak Adam sampai Muhammad
dan merealisasikan dari Muhammad pada diri pengikutnya dari kalangan para wali
dan person person insan kamil. [18][15]
Dalam teori penciptaan ini Ibnu
Arabi menganut faham tajalli atau tanazul (menampakkan diri). Dalam pandangan ibnu arabi bahwa Nur
Muhammad (haqiqah muhammadiyah) adalah tahapan pertama dari tahapan tahapan
tanazul zat Tuhan dalam bentuk bentuk wujud. Dari haqiqah muhammadiayah segala
yang maujud dijadikan. Dengan demikian penciptaan alam semesta ini termasuk
manusia dalam teori ibnu Arabi berasal dari zat Tuhan sendiri kemudian
bertanazul kepada haqiqah muhammadiyah sebagai tanazul tingkat pertama yang
dari padanya melimpah wujud wujud yang lain.[19][16]
Untuk lebih
jelasnya, Tajalliyat (penampakan) Allah pada lingkaran wujud adalah merupakan
penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran
yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan
yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin
membuka perbendaharaan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq
tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan
kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.
c. Wahdat al - adyan (kesamaan agama)
Konsep
Wahdat al-adyan juga merupakan lanjutan tentang konsep Wahdat al -Wujud. Ibnu
arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikat Muhammadiyyah. Konsekuensinya semua agama adalah tunggal dan semua itu
kepunyaan Allah. Seorang yang benar benar arif adalah orang yang menyembah
Allah dalam setiap bidang kehidupannya. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ibadah yang benar
hendaknya seorang abid memandang semua apa saja sebagai bagian dari ruang
lingkup realitas dzat Tuhan yang Tunggal.
Banyak
penulis yang tidak sepakat tentang konsep wahdat al – adyan yang menganggap agama adalah sama. Setiap agama berbeda jadi
Tuhannya seorang yang beda agama tidak bisa dijadikan Tuhan seseorang yang
beragama lain, terlebih lebih agama ardhi yang
merupakan hasil budaya manusia tidak bisa disamakan dengan Allah.
2. Analisis inti ajarannya
Konsep wahdatul Wujud Ibnu Arabi bila tidak
dipahami secara mendalam akan dapat menyesatkan bagi umat yang pemahaman
filsafat dan tingkat keimanannya rendah karena menyamakan Tuhan dengan makhluk
bahkan makhluk bisa dianggap sebagai Tuhan. Mengenai wahdat al Adyan banyak penulis yang tidak
sepakat dengan konsep ini karena setiap agama berbeda jadi Tuhannya seorang
yang beda agama tidak bisa dijadikan Tuhan seseorang yang beragama lain.
Namun
demikian dari kutipan kutipan di atas jelas sekali bahwa Ibnu Arabi masih
membedakan antara Tuhan dan alam dan wujud Tuhan itu tidak sama
dengan wujud alam .meskipun disatu sisi menyamakan Tuhan dengan alam,di sisi
lain beliau menyucikan Tuhan dari adanya persamaan. Ibnu Arabi masih mengakui bahwa alam
ini diciptakan Tuhan dan Tuhan itu diluar alam, sedangkan alam hanya merupakan mazharNya, mazhar asma dan sifat-sifatNya .
3. Pengaruhnya di dunia Islam
Tasawuf Ibnu Arabi menarik
antusiasme para sufi dan salik di Dunia Islam, terutama melalui para muridnya,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Murid dan pengikutnya telah
memberikan analisis, penafsiran, dan ulasan atas karya-karyanya. Di antara
murid-muridnya adalah Shadr al-Dîn al-Qunawi (w. 763/1274), Mu`yid al-Dîn
al-Jandi (w. 690/1291), ‘Abd al-Razzâq al-Q(K)âsyânî (w. 730/1330), Syaraf
al-Dîn Dawûd al-Qaysharî (w. 751/ 1350), Sayyid Haydar Amulî (w. setelah
787/1385), ‘Abd al-Karîm al-Jîlî (w. 826/1421), ‘Abd al-Rahmân al-Jâmî
(w. 898/1492), ‘Abd al-Wahhâb al-Sya`rânî (w. 973/1565), ‘Abd al-Ghanî
al-Nâbulusî (w. 1114/1731) dan lain-lainnya. [20][18]
Melalui sufi dari Gujarat, India,
Yunasril Ali (2002: 50) mengatakan, Muhammad ibnu Fadl Allâh al-Burhanpûrî (w.
1029), ajaran tasawuf IbnuArabî menyebar di Asia Selatan. Di sini, tasawuf Ibn
al-‘Arabî diulas dan diperkenalkan oleh sejumlah ulama sufi seperti Hamzah
Fansûri, Syams al-Dîn al-Sumatrânî, ‘Abd al-Shamad al-Fâlimbânî, Dawûd
al-Fathânî, Muhammad Nafîs al-Banjârî, dan yang lainnya. [21][19]
Rupanya pengaruh Ibnu Arabi tidak hanya menancap di
lingkungan tradisi teologi Sunni, tetapi merembet jauh ke negeri Persia yang
mayoritas bermazhab Syi’ah. Salah seorang filosof Iran yang dipengaruhi Ibnu Arabi adalah Mulla Shadra. Ia
membangun suatu mazhab baru. Dalam mazhab yang disebut Shadra sendiri sebagai Hikmah
al-Muta’âliyah, terdapat seluruh unsur aliran-aliran pemikiran Islam
sebelum membentuk sebuah mazhab
independen. Karena itu, mereka yang menganggap sebagai pengikut filsafat Ibn Sina ataupun
pembaharunya, atau filsafatnya sebagai pelengkap filsafat Ibnu Sina, terjebak pada pendapat yang
keliru. Pendek kata, mereka tidak mengetahui filsafat Mulla
Shadra.Filsafat Shadra
merupakan“perpaduan”dari berbagai aliran pemikiran seperti filsafat Ibn Sina, kalam Syi’ah, dan tasawuf
Ibnu Arabi.[22][20]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf
Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat)
dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tingkat yang lebih tinggi,
bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi
dari itu yaitu wahdatul wujud (kesatuan wujud).
Tokoh yang paling menonjol dalam ajaran tasawuf ini
adalah Ibnu Arabi dengan beberapa ajaran yang dibawanya. Ajaran beliau yang
membawa pengaruh penting dalam Islam adalah wahdatul wujud yang menjelaskan
bahwasannya manusia
dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Selain
wahdatul wujud, ajaran Ibnu Arabi yaitu haqiqah muhammadiyah dan wahdat
al-adyan.
B. Saran
Memang sangat sulit untuk memahami ajaran-ajaran yang
dibawa oleh para sufistik terutama dalam mengikuti cara pandang mereka. Harus
ada pemahaman yang sangat mendalam bagi kita agar tidak terjadi kesalahan dalam
menafsirkan ajaran mereka karena sebagian pendapat mengatakan bahwa ajaran
sufistik yang menganut aliran falsafi mendekati pantheisme.
Oleh karena itusebagai awam kita harus lebih dalam
mempelajarinya agar tidak keliru dalam melaksanakan dan mengamalkannya.
Daftar
Pustaka
Abu Al Wafa’Al Ghanimi At-TaftaZani .1985. Sufi dari
Zaman ke zaman, terj.Ahmad Rofi’Utsmani Bandung : Pustaka
Khan , Ali Mahdi. 2004. Dasar dasar Filsafat Islam : Pengantar ke gerbang pemikiran. Bandung :Nuansa
Jamil,M. 2007. Cakrawala tasawuf:sejarah ,pemikiran dan kontekstualitas. Jakarta:GP Press.
Mufid, Husnu. 2010. Tokoh
Wahdatul Wujud. Bantul, Yogyakarta : Kreasi Wacana
Simuh, 1997.Tassawuf dan
perkembangannya dalam islam. Jakarta : PT RajaGrafindo
Sholihin Ibid, Muhamad dkk. 2008. Ilmu Tasawuf. Bandung:
Pustaka Setia.
[2][2]Abu
Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi
dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, hlm. 182
[3][3]Abu
Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi
dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, Pustaka, Bandung, 1985
[4][4]Ibid,
hlm. 188
[5][5]
Ibid, hlm. 190
[7][7]
Ibid, hlm. 193
[8][8]Husnu
Mufid, tokoh wahdatul wujud, hlm. 25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar