Sabtu, 23 November 2013



Lirik Lagu D’Cinnamons – So Would You Let Me Be


Intro : C Am F G 3x

C G F Em
we`ve get along together
C G F
I should have known
G
you`re the best that I could love
C G F Em
until now it`s hard for me to face it
C G F G
why don`t we meet each other sooner

 #
Am
I left them all behind you..
G
only for you..
C
would you believe it
C
I put my trust on you
Am
but deep inside I realized
G Am
that I can`t, no I can`t                                  
[that I can`t, no I can`t] when back
F G
they were all my brother
Am G
my cry and happiness

Reff :
C
so would you let me be my self
Am
reach all my dreams and hopes
F
I know you`re known me better
G
I know you love me, you do
C
you`re eyes says more than anythings
Am
that`s realy means to me
F
darlin would you now
G C
would you set me free

Int. C G F Em C G F G 2x
Back to #

Reff (overtune)
D
so would you let me be my self
Bm
reach all my dreams and hopes
G
I know you`re known me better
A
I know you love me, you do
D
you`re eyes says more than anythings
Bm
that`s realy means to me                         
[that`s mean a lot for me]                                                                                   
G
darlin would you now
A D
would you set me free
Back to reff  overtune one again

Chord By : Ilham robbi
Lyrics by : Custom

Selasa, 19 November 2013


JATI DIRI MANUSIA

Manusia merupakan sesosok makhluk yang dalam kehidupannya tidak lepas dari sebuah masalah. Dalam kehidupannya manusia selalu mengalamai perkembangan yang membuatnya selalu mencari posisi di dalam gerak maju roda kehidupan yang tidak kenal kata berhenti apalagi mundur. Akibatnya manusia begitu percaya bahwa ia akan sangat mampu mengarahkan alam semasesta dan kehidupannya. Namun akhirnya, manusia tahu bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta ini, dan menuntutnya segera merumuskan jati dirinya sendiri. Manusia tidak bisa mengelak untuk mencari posisi di dalam gerak laju kehidupannya.
1.      Manusia
Manusia memiliki martabat sebagai seorang manusia yang utuh. Dalam keutuhannya manusia selalu merasa dirinya hanya satu (unitas). Aku adalah aku, dimanapun dan dalam keadaan apapaun. Konsep ke-Aku-an inilah yang merupakan watak utama dari seorang manusia. Karena itu manusia selalu ingin mengarahkan alam semesta ini sesuai kehendaknya.
  Menurut plato, martabat manusia sebagai pribadi tidak terbatas pada mulainya jiwa bersatu dengan raga. Jiwa tercipta lebih dahulu sebelum jatuh ke dunia dan bersatu dengan badan. Maka menurut plato manusia atau pribadi adalah jiwa sendiri. Badan hanyalah alat yang berguna sewaktu hidup.
Akhirnya tidak bisa disangkali bahwa terdapat pula keberagaman di dalam diri manusia, karena kompleksnya unsur-unsur yang ada di dalamnya. Unitas dan kompleksitas jati diri manusia inilah yang menyebabkannya kaya dan juga menyebabkan kesulitan untuk memahami secara tepat apa dan siapakah aku, apa dan siapa jati diriku. Unitas dan kompleksitas inilah yang juga menimbulkan bermacam-macam pendapat mengenai jati diri manusia.
2.      Jati Diri Manusia
Jati diri yaitu kesatuan (Unitas) dan keberagaman (kompleksitas). Kesatuan berarti bahwa dalam diri manusia terdapat berbagai unsur pembentuk yang tak dapat terbagi-bagi. Seperti kesatuan karakter, sifat, watak, kepribadian, identitas diri, dan keunikannya yang ada di dalamnya. Sebagian orang berpendapat bahwa arti jati diri adalah suatu manifestasi ideologi hidup seseorang. Jati diri sendiri merupakan bagian dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya mulai dari kecil, kemudian sifat bawaan kadang juga terpengaruh dengan faktor lingkungan tempat seseorang hidup dan dibesarkan.
Melihat unsur-unsur yang terkandung dalam jati diri seperti karakter, sifat, watak, kepribadian dan identitas diri. Maka, bisa kita simpulkan bahwa jati diri manusia bukan merupakan sesuatu yang statis dan final. Karena jati diri sendiri adalah sebagai subjek pengada aktual bagi pengetahuan dengan sifatnya yang terus berproses.
Kita tentu sudah tidak asing mendengar istilah seorang anak yang sedang mencari jati diri, hal ini sering terungkap karena dalam proses pembentukan karakter yang sebenarnya pada diri seseorang adalah pada masa pancaroba, yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.
Untuk memahami jati dirinya, ada sebuah kata yang bijaksana yang dilontarkan oleh Socrates dan di dalam kitab Suci juga ada yakni ”kenalilah dirimu sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”  Dari kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemahaman terhadap diri sendiri dalam mencari jati diri tidak terlepas dari adanya hubungan dengan Tuhan.
Dalam memahami jati dirinya, manusia sealu memiliki bermacam-macam pendapat tentang pengertiannya. Terdapat tiga tahapan dalam penemuan jati diri. Yaitu tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dan tahap kepenuhan diri. Tahap pengumpulan data adalah tahap dimana seseorang mulai menangkap data-data atau nilai-nilai yang telah ada dalam dunianya. Tahap pengolahan secara sederhana adalah tahap dimana seseorang mulai mampu untuk menalarkan berbagai pengetahuan yang telah ia dapatkan dalam tahap pengumpulan data tadi. Terakhir tahap kepenuhan adalah tahap akhir yang juga bisa dikatakan bahwa seseorang telah mencapai jati dirinya, sehingga telah mampu menjadi objek bagi pengada lainnya.
Jadi kesimpulannya, jati diri manusia bukanlah sesuatu yang sudah bisa ditentukan sejak awal. Selama seseorang masih hidup kita hanya bisa mengatakan “jatidirinya sampai saat ini”. Sedangkan jati diri seseorang akan menjadi final dan definit hanyalah kalau orang yang bersangkutan sudah meninggal, artinya mencapai keputusan final dalam arti yang paling mendalam.
3.      Dari Pengetahuan Sampai Kematian
Ilmu pengetahuan, selain berupaya membuat manusia mengenal dirinya, juga berupaya membuat manusia mengenal dunia. Namun kalau manusia mengenal dirinya melalui ilmu pengetahuan, maka kenal diri seperti ini menjemukan dan tidak hidup. Kenal diri seperti ini tidak menghidupkan jiwa manusia dan juga tidak membangkitkan kemampuan terpendam manusia. Namun kalau manusia mengenal dirinya melalui agama, maka kenal diri seperti ini membuatnya mengetahui realitasnya, menghilangkan apatinya, membakar jiwanya dan membuatnya memiliki rasa kasih sayang dan simpati. Tugas seperti ini tak mungkin diemban oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Bukan saja itu, ilmu pengetahuan dan filsafat terkadang justru membuat manusia tidak sensitif dan lupa akan dirinya. Itulah sebabnya mengapa ilmuwan dan filosof tidak sensitif dan egois. Kata pepatah, mereka ini laksana anjing dalam palungan (bak tempat makanan dan minuman ternak). Mereka lupa akan dirinya, sedangkan banyak orang tak berpendidikan sadar akan dirinya.
Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya bisa dicapai oleh manusia karena pengetahuan intelektif bisa dicapai oleh rasio atau inteligen,yang merupakan kemampuan intelektual manusia saja. Hakikat pengetahuan intelektif telah menjadi pembicaraan dalam filsafat kuno, salah satunya dialog Plato yaitu Thaetetus, merupakan usaha manusia untuk sampai pada definisi pengetahuan yang memuaskan.

Kebenaran pengetahuan tidak bisa dimiliki oleh budi manusia walaupun pengetahuan tersebut telah diuji kebenarannya. Kemungkinan terbaik yang didapatkan adalah bahwa ada alasan-alasan kuat untuk menerima bahwa sesuatu itu dianggap benar. Suatu pernyataan itu benar bila pola kontras nilai dari subjek, yang direalisasikan didalam kenyataan, mencerminkan pola kontras nilai yang dapat secara teoritis didalam predikat.
Namun kemampuan budi teoritis untuk melangkah maju denga melaksanakan tugasnya tersebut, juga dipengaruhi ole kehendak. Dengan demikian kehendak merupakan motor yang menggiatkan budi teoritis untuk bertindak. Kehendak tidak bisa diletakkan begitu saja pada budi praktis atau budi teorotis. Kiranya lebih aman kalau kehendak justru diletakkan pada posisi yang mendasari keduanya.
Manusia adalah satu-satunya spesies yang tahu bahwa ia akan mati, dan mengetahuinya dari pengalaman. Yang menonjol didalam mengahdapi kematian adalah rasa takut yang sangat mendalam. 






BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG MASALAH
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajarannya-ajarannya memadukan antara visi dan mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasauwufakhlaqi, tasauf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafitersebut berasal dari bermcam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[1][1]
Tasawuf ada beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Adapula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf 'Ilmi. Akan tetapi dalam makalah kecil ini hanya akan dibahas secara lebih fokus tentang tasawuf Falsafi saja.
Dalam makalah ini penulis mencoba menjelaskan berbagai ajaran tasawuf utamanya yang di ajarkan oleh Ibnu Arabi. Ibnu Arabi merupakan salah satu tokoh tasawuf falsafi yang sangat terkenal dengan ajaran utamanya yakni wahdatul wujud yang menjelaskan kesatuan wujud yakni Tuhan dan manusia adalah satu wujud.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Apakah yang dimaksud tasawuf falsafi?
b. Apa ajaran-ajaran yang dibawa Ibnu Arabi?
c. Apakah yang dimaksud wahdatul wujud?
C. TUJUAN
a. Untuk memahami tasawuf falsafi
b. Mengetahui ajaran-ajaran Ibnu Arabi
c. Memahami ajaran wahdatul wujud


BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Tasawuf Falsafi
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tingkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wahdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.
Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. Kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (يلمعا ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (رطنا ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.
Menurut at-taftazani, tasawuf falsafi mulai muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak abad keenam hijriyah, meskipun para tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Sejak itu, tasawuf jenis ini tersu hidup dan berkembang, terutamadi kalangan para sufi yang juga filosof, sampai menjelang akhir-akhir ini.[2][2]Adanya pemaduan antar tasawuf dan filsafat dalam ajaran tasawuf ini dengan senidirnya telah membuat ajaran-ajaran tasawuf jenis ini bercampur dengan sejumlah ajaran filsafat di luar islam, seperti yunani, persia, india, dan agama nashari. Akan tetapi, orisianiltasnya sebagai tasawuf tetap tidak hilang. Sebab, meskipun mempunyai latar belakang kebudayaan dan pengetahuan yang berbeda dan beragam, seiring dengan ekspansi islam, yang telah meluas pada waktu itu, para tokohnya tetap berusaham menjaga kemandirian ajaran aliran mereka, teruutama bila dikaitkan dengan kedudukannya sebagai umat islam. Sikap ini dengan sendirinya dapat menjelaskan kepada kita mengapa para tokoh tasawuf jenis ini begitu gigih mempromklamirkan ajaran-ajaran filsafat yang berasal dari luar islam tersebut ke dalam tasawuf mereka, serta menggunakan terminologi-terminologi filsafat, tetapi maknanya telah disesuaikan dengan ajaran tasawuf yang mereka anut.
Masih menurut at-taftazani, ciri umum tasawuf falsafi adalah ajarannya yang samar-samar akibat banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh siapa saja yang memahami ajaran tasawuf jenis ini.[3][3] Tasawuf falsafi tidak dapat di pandang sebagai filsafat karena ajaran dan metodenya didasarkan pada rasa (dzauq) tetapi tidak dapat pula di kategorikan sebagai tasawuf dalam pengertiannya yang murni, karena ajrannya sering diungkapkan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada panteisme.[4][4]
Para sufi yang juga filosof pendiri aliran tasawuf ini mengenal dengan baik filsafat yunani serta berbagai aliran seperti socrates, plato, aristoteles, aliran stoa, dan aliran neo-platonisme, dengan filsafatnya tentang emanasi. Bahkan, mereka pun cukup akbar dengan filsafat yang sering kali disebut hermenetisme yang karya-karyanya banyak di terjemahkan ke dalam bahasa arab dan filsafat-filsafat timur kuno, baik dari persia maupun india, serta filsafat-filsafat islam, seperti yang diajarkan oleh al-farabi dan ibnu sina. Mereka pun dipengaruhi aliran batiniah sekte isma'iliyyah aliran syi’ah dan risalah-risalah ikhwan ash-shafa’.[5][5]
Tasauf falsafi memiliki objek tersendiri yang berbeda dengan tasawuf sunni. Dalam hal ini, ibnu khaldun, sebagaimana yang dikutip oleh at-taftazani,[6][6] dalam karyanya al-muqaddimah menyimpulkan bahwa ada emapat objek utama yang menjadi perhatian para sufi filosof, antara lain sebagi berikut.
Pertama, latihan rohaniah dengan rasa, intuisi serta intropeksi diri yang timbul darinya. Mengenai latihan rohaniah dengan tahapan (maqam) maupun keadaan (hal) rohaniah serta rasa (dzauq) para sufi filosof cenderung sependapat dengan para sufi sunni, sebab, masalah tersebut, menurut ibnu khaldun, merupakan sesuatu yang tidak dapat di tolak oleh siapapun.
Kedua, iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, seperti sifat-sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, roh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang penciptanya. Serta pencipatannya. Mengenai ilminasi ini, para sufi yang juga filosof tersebut melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta menggairahkan roh dengna jalan menggiatkan dzikir. Dengan dzikir, menurut mereka, jiwa dapat memahami hakikat realitas-realitas.
Ketiga, peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.
Keempat, penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syathayyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui, ataupun menginterprestasikannya dengan interprestasi yang berbeda-beda.
Perlu di catat, dalam beberapa segi, para sufi-filosof ini melebihi para sufi sunni. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, mereka adalah para teoritisi yang baik tentang wujud, sebagaimana terlihat dalam karya-karya atau pusis-pusisi mereka. Untuk yang satu ini, mereka tidak menggunakan ungkapan-ungkapan syathadiyat. Kedua kelihaian mereka menggunakan simbo-simbol sehingga ajarannya tidak begitu saja dapat di pahami orang lain di luar mereka. Ketiga, kesiapan mereka yang sungguh-sungguh terhadap diri sendiri ataupun ilmunuya.[7][7]
Di antar tokoh-tokoh tasawuf falsafi adalah ibnu arabi, al-jili, ibnu sab’in, dan ibnu masarrah.
B. Ibnu Arabi (560 H-638 H) dan Ajarannya
a. Biografi Singkat Ibnu Arabi
Nama lengkap ibnu Arabi adalah muhammad bin ‘ali bin ahmad bin ‘abdullah ath-tha’i al-haitami. Ia lahir di mercia, andalusia tenggara, spanyol, 17 Ramadhan tahun 560 H atau 28 Juli tahun 1165 M, dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuan. Tahun 620 H, ia tinggal di Hijaz dan meninggal di sana pada tahun 638 H. Namaya biasa di sebut tanpa Al untuk membedakan dengan abu bakar tanpa “al” untuk membedakan dengan abu bakar ibnu al-‘arabi seorang qadhi dari sevilla yang wafat tahun 543 H. Di sevilla (spanyol), ia mempelajari al-Qur’an, hadis serta fiqih pada sejumlah murid andalusia terkenal, yakni ibnu hazm az-zhahiri.[8][8]
b. Ajaran-ajaran tasawuf Ibnu Arabi
Ibnu Arabi adalah penganut faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibnu Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya. Namun dari berbagai ajarannya bisa dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud[9][5]
Karya karyanya yang monumental diantaranya Al Futuhad Al Makiyah ditulis saat menunaikan ibadah haji, danTarjuman Asyiwaq ditulis mengenang kecantikan, ketaqwaan dan kepintaran seorang gadis cantik dari keluarga sufi dari Persia..
Secara kronologis, berikut ini adalah daftar karya-karya Ibnu Arabi.
  1. Mashahid al-Asrar al-Qudsiyya (Contemplations of the Holy Mysteries) (Written in Andalusia, 590/1194).
  2. Al-Tadbirat al-Ilahiyya (Divine Governance of the Human Kingdom). Written in Andalusia.
  3. Kitab Al-Isrâ’ (The Book of Night Journey). Written in Fez, 594/1198.
  4. Mawaqi al-Nujûm (Settings of the Stars). Writen in Almeria, 595/1199.
  5. ‘Anqa` Mughrib (The Fabulous Gryphon of the West), Written in Andalusia, 595/1199.
  6. Insha’ al-Dawa’ir (The Description of the Encompassing Circles). Written in Tunis, 598/1201.
  7. Mishkat al-Anwâr (The Niche of Lights). Written in Mecca, 599/1202/03.
  8. Hilyat al-Abdal (the Adornment of the Substitutes). Written in Taif, 599/1203.
  9. h al-Quds (The Epistle of the Spirit of Holiness). Written in Mecca, 600/1203.
  10. Taj al-Rasâil (The Crown of Epistles). Written in Mecca, 600/1203.
  11. Kitab al-Alif, Kitab al-Ba’, Kitab al-Ya. Written in Yerusalem, 601/1204.
  12. Tanazzulat al-Mawsiliyyai (Descents of Revelation). Written in Mosul, 601/1205.
  13. Kitab al-Jalal wa al-Jamâl (The Book of Majesty and Beauty). Written in Mosul, 601/1205.
  14. Kitab Kunh ma la budda lil murid minhu (What is essential for the Seeker). Mosul, 601/1205.
  15. Fusûs al-Hikam (Vessels of Wisdom). Damascus, 627/1229.
  16. al-Futûhât al-Makkiyya (Meccan Illuminations). Mecca, 1202-1231 (629)[10][7]
1.      Pemikiran atau Inti Ajaran Tasawuf Ibnu Arabi
a.        Wahdat al – Wujud
Diantara ajaran terpenting Ibnu Arabi adalah tentang kesatuan wujud (Wahdat al -Wujud) yaitu faham bahwa manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Menurut faham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki dua aspek, yaitu aspek luar dan aspek dalam .Aspek luar disebut makhluk (al- Khalq) aspek dalam disebut Tuhan (al haqq). Menurut faham ini aspek yang sebenarnya ada hanyalah aspek dalam (Tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah  bayangan dari aspek dalam tersebut. [11][8]
Sebagaimana doktrin-doktrin beliau dalam kitab Futuhad Al-Makkiyah dan Fushush Al-Hikam esensi KeTuhanan bagi ibnu Arabi adalah segala yang ada yang bisa dipandang dari dua aspek: (1) sebagai esensi murni,tunggal dan tanpa atribut (sifat); dan (2) sebagai esensi yang dikaruniai atribut.Tuhan,karena dipandang tidak beratribut,berada di luar relasi dan karenanya juga di luar pengetahuan. Dalam esensi - Nya Tuhan terbebas dari penciptaan, tetapi dalam keTuhanan-Nya,Tuhan membutuhkannya. Eksistensi Tuhan adalah absolut, ciptaannya ada secara relatif, dan yang muncul sebagai relasi realitas adalah wujud nyata yang terbatasi dan terindividualisasi. Karenanya segala sesuatu adalah atribut Tuhan dan dengan demikian semua pada akhirnya identik dengan Tuhan, tanpa memandang bahwa semua itu sebenarnya bukan apa-apa. [12][9].
Ibnu Arabi memandang manusia dan alam sebagai cermin yang memperlihatkan Tuhan dan berkata bahwa sang penerima berasal dari nol sebab ia berasal dari emanasi-Nya yang paling suci karena seluruh kejadian (eksistensi) berawal dan berakhir bersama-Nya: kepada-Nya ia akan kembali  dan dari-Nya ia berawal.[13][10]

Ketika Tuhan berkehendak dengan nama nama bagus-Nya (sifat sifat) yang berada di luar hitungan, esensinya bisa dilihat. Dia menyebabkan nama nama itu bisa dilihat dalam sebuah wujud mikrokosmik yang karena dikaruniai eksistensi meliputi seluruh obyek penglihatan   dan melaluinyalah kesadaran terdalam Tuhan menjadi termanifestasikan di hadapan-Nya [14][11]

Menurut Ibnu Arabi wujud semua yang ada ini hanya satu dan wujud makhluk pada hakikatnya adalah wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya dari segi hakikat. Adapun kalau ada  yang mengira bahwa antara wujud khaliq dan makhluk ada perbedaan, hal itu dilihat dari sudut pandang panca indra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat apa yang ada pada Dzat-Nya dari kesatuan dzatiah yang segala sesuatu berhimpun pada-Nya.[15][12]

Menurutnya wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah adalah hakikat alam.Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang disebut Khaliq dan wujud baru yang disebut makhluk. Kalau antara Khaliq dan makhluk bersatu dalam wujudnya mengapa terlihat dua? Ibnu Arabi menjawab sebabnya adalah tidak memandang dari sisi yang satu tetapi memandang keduanya dengan pandangan bahwa keduanya adalah Khaliq dari sisi yang satu dan makhluk dari sisi yang satu [16][13]

Satu satunya wujud adalah wujud Tuhan, tidak ada wujud selain wujudNya. Ini berarti apa pun selain Tuhan baik berupa alam maupun apa saja yang ada di alam tidak memiliki wujud. Kesimpulannya kata wujud tidak diberikan kepada selain Tuhan. Akan tetapi kenyataannya Ibnu Arabi juga menggunakan kata wujud untuk menyebut sesuatu selain Tuhan.Namun ia mengatakan bahwa wujud itu hanya kepunyaan Tuhan sedang wujud yang ada pada alam hakikatnya adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya.Untuk memperjelas uraiannya ibnu Arabi memberikan contoh berupa cahaya. Cahaya hanya milik matahari, tetapi cahaya itu dipinjamkan kepada para penghuni bumi. Ibnu  Arabi mengemukakan teori tajalli yang berarti menampakkan diri. Tajalli artinya Allah menampakkan diri atau membuka diri,jadi diumpamakan Allah bercermin sehingga terciptalah bayangan Tuhan dengan sendirinya. Dengan teori ini makhluk adalah bayang bayang atau pencerminan Tuhan di mana Tuhan dapat melihat dirinya sendiri tanpa kehilangan sesuatupun. Artinya tetap dalam kemutlakannya

Lebih lanjut  Ibnu Arabi menjelaskan hubungan antara Tuhan dengan alam. Menurutnya alam adalah bayangan Tuhan atau bayangan wujud yang hakiki dan alam tidak mempunyai wujud yang sebenarnya. Oleh karena itu alam tempat tajali dan mazhar (penampakan Tuhan) Menurutnya ketika Allah menciptakan alam ini. Ia juga memberikan sifat sifat keTuhanan pada segala sesuatu. Alam ini seperti cermin yang buram dan seperti badan yang tidak bernyawa. Oleh karena itu Allah menciptakan manusia untuk memperjelas cermin itu. Dengan pernyataan lain alam ini merupakan mazhar (penampakan) dari asma dan sifat Allah yang terus menerus. Tanpa alam sifat dan asmaNya akan kehilangan makna dan senantiasa dalam bentuk dzat yang tinggal dalam ke-mujarrad-an (kesendirian)-Nya.yang mutlak yang tidak dikenal oleh siapapun. [17][14]

Sementara permasalahan Tasybih dan Tanzih  Ibnu Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesucian Allah dari segala sifat yang baru) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baru) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah seperti yang dilakukan ole kalangan Mu’tazilah yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Hal ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti  yang  dilakukan  kalangan  al-mujassimah  maka  mengakibatkan  keserupaan Tuhan dengan yang baru. Untuk memperkuat pendapatnya beliau merujuk pada sebuah hadis Qudsi


Artinya:
Aku pada permulaaanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi,kemudian Aku ingin dikenal ,maka Ku ciptakan makhluk.lalu dengan itulah mereka mengenal aku.

b.        Haqiqah Muhammadiyah
Konsep haqiqah Muhammadiyah ini lanjutan dari konsep Wahdat al -Wujud. Ibnu arabi menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran haqiqah Muhammadiyah atau Nur Muhammad .Menurutnya tahapan tahapan kejadian proses penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu adalah sebagai berikut:

Pertama, Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu dzat yang mandiri dan tidak    berhajat kepada suatu apapun.

Kedua, wujud haqiqah Muhammadiyah sebagai emanasi (pelimpahan ) pertama dari wujud Tuhan dan dari sini muncul segala wujud dengan proses tahapan tahapannya. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa Nur muhammad itu qadim dan merupakan sumber emanasi degan berbagai macam kesempurnaan ilmiah dan amaliah yang terealisasikan pada diri para nabi semenjak Adam sampai Muhammad dan merealisasikan dari Muhammad pada diri pengikutnya dari kalangan para wali dan person person insan kamil. [18][15]

Dalam teori penciptaan ini Ibnu Arabi menganut faham tajalli atau tanazul (menampakkan diri). Dalam pandangan ibnu arabi bahwa Nur Muhammad (haqiqah muhammadiyah) adalah tahapan pertama dari tahapan tahapan tanazul zat Tuhan dalam bentuk bentuk wujud. Dari haqiqah muhammadiayah segala yang maujud dijadikan. Dengan demikian penciptaan alam semesta ini termasuk manusia dalam teori ibnu Arabi berasal dari zat Tuhan sendiri kemudian bertanazul kepada haqiqah muhammadiyah sebagai tanazul tingkat pertama yang dari padanya melimpah wujud wujud yang lain.[19][16]

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat (penampakan) Allah pada lingkaran wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zatnya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagunganNya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendaharaan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaanNya dalam pentas alam yang maha luas.

c. Wahdat al - adyan (kesamaan agama)

Konsep Wahdat al-adyan juga merupakan lanjutan tentang konsep Wahdat al -Wujud. Ibnu arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikat Muhammadiyyah. Konsekuensinya semua agama adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah. Seorang yang benar benar arif adalah orang yang menyembah Allah dalam setiap bidang kehidupannya. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ibadah yang benar hendaknya seorang abid memandang semua apa saja sebagai bagian dari ruang lingkup realitas dzat Tuhan yang Tunggal.
Banyak penulis yang tidak sepakat tentang konsep wahdat al – adyan yang menganggap  agama adalah sama. Setiap agama berbeda jadi Tuhannya seorang yang beda agama tidak bisa dijadikan Tuhan seseorang yang beragama lain, terlebih lebih agama ardhi yang merupakan hasil budaya manusia tidak bisa disamakan dengan Allah.

2.      Analisis inti ajarannya
         Konsep wahdatul Wujud Ibnu Arabi bila tidak dipahami secara mendalam akan dapat menyesatkan bagi umat yang pemahaman filsafat dan tingkat keimanannya rendah karena menyamakan Tuhan dengan makhluk bahkan makhluk bisa dianggap sebagai Tuhan. Mengenai  wahdat al Adyan banyak penulis yang tidak sepakat dengan konsep ini karena setiap agama berbeda jadi Tuhannya seorang yang beda agama tidak bisa dijadikan Tuhan seseorang yang beragama lain.

Namun demikian dari kutipan kutipan di atas jelas sekali bahwa Ibnu Arabi masih membedakan antara  Tuhan  dan alam dan wujud Tuhan itu tidak sama dengan wujud alam .meskipun disatu sisi menyamakan Tuhan dengan alam,di sisi lain beliau menyucikan Tuhan dari adanya persamaan. Ibnu Arabi masih mengakui bahwa alam ini diciptakan Tuhan dan Tuhan itu diluar alam, sedangkan alam hanya merupakan mazharNya, mazhar asma dan sifat-sifatNya .


3.      Pengaruhnya di dunia Islam
Tasawuf Ibnu Arabi menarik antusiasme para sufi dan salik di Dunia Islam, terutama melalui para muridnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Murid dan pengikutnya telah memberikan analisis, penafsiran, dan ulasan atas karya-karyanya. Di antara murid-muridnya adalah Shadr al-Dîn al-Qunawi (w. 763/1274), Mu`yid al-Dîn al-Jandi (w. 690/1291), ‘Abd al-Razzâq al-Q(K)âsyânî (w. 730/1330), Syaraf al-Dîn Dawûd al-Qaysharî (w. 751/ 1350), Sayyid Haydar Amulî (w. setelah 787/1385), ‘Abd al-Karîm al-Jîlî (w. 826/1421), ‘Abd al-Rahmân al-Jâmî (w. 898/1492), ‘Abd al-Wahhâb al-Sya`rânî (w. 973/1565), ‘Abd al-Ghanî al-Nâbulusî (w. 1114/1731) dan lain-lainnya. [20][18]

Melalui sufi dari Gujarat, India, Yunasril Ali (2002: 50) mengatakan, Muhammad ibnu Fadl Allâh al-Burhanpûrî (w. 1029), ajaran tasawuf IbnuArabî menyebar di Asia Selatan. Di sini, tasawuf Ibn al-‘Arabî diulas dan diperkenalkan oleh sejumlah ulama sufi seperti Hamzah Fansûri, Syams al-Dîn al-Sumatrânî, ‘Abd al-Shamad al-Fâlimbânî, Dawûd al-Fathânî, Muhammad Nafîs al-Banjârî, dan yang lainnya. [21][19]

Rupanya pengaruh Ibnu Arabi tidak hanya menancap di lingkungan tradisi teologi Sunni, tetapi merembet jauh ke negeri Persia yang mayoritas bermazhab Syi’ah. Salah seorang filosof Iran yang dipengaruhi Ibnu Arabi adalah Mulla Shadra. Ia membangun suatu mazhab baru. Dalam mazhab yang disebut Shadra sendiri sebagai Hikmah al-Muta’âliyah, terdapat seluruh unsur aliran-aliran pemikiran Islam sebelum  membentuk sebuah mazhab independen. Karena itu, mereka yang menganggap sebagai  pengikut filsafat Ibn Sina ataupun pembaharunya, atau filsafatnya sebagai pelengkap filsafat Ibnu Sina, terjebak pada pendapat yang keliru. Pendek kata, mereka tidak mengetahui filsafat Mulla Shadra.Filsafat Shadra  merupakan“perpaduan”dari berbagai aliran pemikiran seperti  filsafat Ibn Sina, kalam Syi’ah, dan tasawuf Ibnu Arabi.[22][20]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
           
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tingkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wahdatul wujud (kesatuan wujud).
Tokoh yang paling menonjol dalam ajaran tasawuf ini adalah Ibnu Arabi dengan beberapa ajaran yang dibawanya. Ajaran beliau yang membawa pengaruh penting dalam Islam adalah wahdatul wujud yang menjelaskan bahwasannya manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Selain wahdatul wujud, ajaran Ibnu Arabi yaitu haqiqah muhammadiyah dan wahdat al-adyan.

B.     Saran

Memang sangat sulit untuk memahami ajaran-ajaran yang dibawa oleh para sufistik terutama dalam mengikuti cara pandang mereka. Harus ada pemahaman yang sangat mendalam bagi kita agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan ajaran mereka karena sebagian pendapat mengatakan bahwa ajaran sufistik yang menganut aliran falsafi mendekati pantheisme.
Oleh karena itusebagai awam kita harus lebih dalam mempelajarinya agar tidak keliru dalam melaksanakan dan mengamalkannya.




Daftar Pustaka  
Abu Al Wafa’Al Ghanimi At-TaftaZani .1985. Sufi dari Zaman ke zaman, terj.Ahmad Rofi’Utsmani Bandung : Pustaka

Khan , Ali Mahdi. 2004. Dasar dasar Filsafat Islam : Pengantar ke gerbang pemikiran. Bandung :Nuansa

Jamil,M. 2007. Cakrawala tasawuf:sejarah ,pemikiran dan kontekstualitas. Jakarta:GP Press.

Mufid, Husnu. 2010. Tokoh Wahdatul Wujud. Bantul, Yogyakarta : Kreasi Wacana

Simuh, 1997.Tassawuf dan perkembangannya dalam islam. Jakarta : PT RajaGrafindo

Sholihin Ibid, Muhamad dkk. 2008. Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.




1[1] Sholihin, dkk. 2008. Ilmu Tasawuf, hlm.5

[2][2]Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, hlm. 182
[3][3]Abu Al-wafa’ Al-ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Terj. Ahmad far’i ustmani, Pustaka, Bandung, 1985
[4][4]Ibid, hlm. 188
[5][5] Ibid, hlm. 190
[6][6]Ibid, hlm. 192
[7][7] Ibid, hlm. 193
[8][8]Husnu Mufid, tokoh wahdatul wujud, hlm. 25
[9][5] Jamil,M.Cakrawala tasawuf:sejarah ,pemikiran dan kontekstualitas, hlm.98
[10][7] Ibid, hlm. 137
[11][8] Jamil,M.Cakrawala tasawuf:sejarah ,pemikiran dan kontekstualitas, hlm.109
[12][9]  Ali Mahdi Khan,Dasar dasar Filsafat Islam : Pengantar ke gerbang pemikiran, hlm.147
[13][10]  Ibid, hlm.148
[14][11] Ibid, hlm. 175-176
[15][12] Ibid, hlm.176
[16][13] Ibid, hlm. 179
[17][14]  Ibid, hlm.180
[18][15] Ibid, hlm. 182-183
[19][16] Simuh, Tassawuf dan perkembangannya dalam islam, hlm.197
[20][18] Ali Mahdi Khan,Dasar dasar Filsafat Islam : Pengantar ke gerbang pemikiran, hlm. 147
[21][19] Jamil,M.Cakrawala tasawuf:sejarah ,pemikiran dan kontekstualitas, hlm. 130
[22][20] Jamil,M.Cakrawala tasawuf:sejarah ,pemikiran dan kontekstualitas, hlm. 138